google.com, pub-8027005344017676, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Soekarno Tahu Gerakan Soeharto


Untuk duduk sebagai seorang presiden sebuah negara mungkin tidaklah sulit, akan tetapi menjadi seorang pemimpin tidaklah semudah yang dibayangkan. Untuk dapat duduk disinggasana kepresidenan bisa didapat melalui dukungan kematangan dan taktik sebuah rencana dan strategi politik. Akan tetapi, untuk dapat menjadi seorang pemimpin sebuah negeri, hal yang paling dibutuhkan adalah kekuatan mental serta kesiapan lahir dan batin dalam menerima segala macam resiko serta kerelaan untuk berkorban waktu, tenaga, jiwa dan raga demi negeri, rakyat dan bangsa yang dipimpinnya secara ikhlas.


Prinsip dasar sebagai seorang pemimpin sejati telah dibuktikan secara nyata oleh Presiden Soekarno dalam mengatasi taktik dan upaya Jenderal Soeharto dalam menjalankan kudeta serta pengambilan alih kekuasaan yang dia jalankan bersama-sama dengan kroni dan antek-anteknya.

Penyelewengan yang dilakukan oleh Jendral Soeharto dalam menyalahgunakan SUPERSEMAR (Surat Perintah Sebelas Maret) yang diterbitkan pada Minggu Legi, 11 September 1966 telah dengan sengaja menyakiti hati Presiden Soekarno selaku pemimpin negeri pada saat itu. 

Beberapa petinggi militer yang saat itu benar-benar setia kepada Bung Karno pun merasa tidak suka akan hal yang dilakukan Jenderal Soeharto. Mereka meminta pada pak Karno untu segera bertindak tegas dengan menindak Jenderal Soeharto beserta para antek-anteknya, akan tetapi, pak Karno memiliki pandangan lain dan menolak hal tersebut.

Bung Karno sadar, apabila beliau memukul mundur Jenderal Soeharto beseta para kroni dan antek-anteknya, maka bangsa Indonesia akan terjadi perang saudara dan malapetaka besar yang maha dasyat tidak akan dapat di elakkan, apalagi saat itu para tentara yang memiliki senjata juga terlibat langsung.

Jika Indonesia sampai terjadi perang saudara, maka itulah sebenarnya yang dinantikan oleh pihak asing, yaitu kaum imperialis-Kolonial yang memiliki maksud untuk menguasai sejak jaman dahulu. Jika prahara sampai terjadi dibumi Indonesia, maka Amerika dan Inggris akan segera mendatangkan tentaranya, dengan alasan menyelamatkan aset negara mereka, fasilitas negara, perusahaan-perusahaan, diplomat dan kedutaan besar mereka yang ada di Indonesia.

Soekarno paham akan efek yang akan ditimbulkan jika beliau menggunaka cara-cara kekerasan untuk menghadapi manuver politik Jenderal Soeharto, dan hal ini dibenarkan oleh menteri Kabinet Dwikora Muhammad Achadi yang juga bekas menteri transmigrasi dan koperasi tersebut.

Letnan Jenderal Hartono, komandan Korps Komando sebagai seorang petinggi militer juga menyatakan bahwa dirinya siap menunggu perintah dari Presiden Soekarno untuk memukul mundur Jenderal Soeharto beserta para kroni dan antek-anteknya. Sejak jaman dahulu, KKO adalah barisan pendukung utama Bung Karno. Pernyataan Letjen Hartono: "Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO", dan kalimat itu masih terkenal hingga sekarang.

Pada sebuah pertengahan bulan Maret 1966, Hartono yang saat itu menjabat sebagai Wakil Panglima Angkatan Laut, datang menemui Presiden Soekarno di Istana Merdeka, Jakarta. Pada waktu yang bersamaan, Achadi juga sedang melaporkan kepada Presiden Soekarno tentang sejumlah menteri yang ditahan oleh orang-orang yang setia pada Soeharto. Mendengar laporan Achadi tersebut, Bung Karno berkata: "Kemarin sore Harto datang kemari, dia minta ijin akan melakukan pengawalan pada beberapa menteri yang katanya akan didemo oleh para mahasiswa". "Tetapi itu bukanlah pengawalan, yang mulia", kata Achadi. Achadi kemudian mengutus ajudannya untuk menghubungi Mayjen Achmadi, selaku menteri penerangan saat itu, guna membuktikan laporannya pada Bung Karno.

Achadi, Achmadi pun kemudian duduk di Tim Epilog dan bertugas menghentikan dampak buruk akibat penculikan dan pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira Angkatan Darat, yang diketemukan tewas pada 1 Oktober 1966 tersebut. Dan Soeharto pun juga menjadi salah satu tim tersebut.

Achmadi telah beberapa kali dicoba untuk dihubungi, tetapi tidak diketahui keberadaannya. Achmadi hilang entah kemana, tiada seorangpun  yang bisa mengetemukannya. Saat itulah, Hartono meminta ijin kepada Bung Karno untuk segera menghadapi Soeharto. Akan teapi, Soekarno menggelengkan kepala dan melarangnya.

Saat itu juga selain KKO juga ada Panglima Kodam SIliwangi, Ibrahim Adji, Panglima Kodam Jaya Amir Machmud beserta para Panglima Kodam yang lainnya  yang menyatakan siap untuk segera menghadapi Soeharto. Akan teapi, Soekarno menggelengkan kepala dan melarang. Soekarno tidak ingin menggunakan kekerasan yang akan mengakibatkan pertumpahan darah diantara mereka. Hartono dan Achadikemudian meminta nasehat Bung Karno, tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan.


Bung Karno memerintahkan kepada Hartono untuk menghalangi upaya Soeharto supaya jangan terlalu jauh melangkah. Hartono diminta Soekarno untuk lebih bersabar , supaya jangan sampai terjadi perang saudara. Hanya itulah yang diperintahkan Soekarno pada Hartono.

Tindakan menjaga keselamatan dan menjaga pertumpahan darah sesama putera bangsa inilah yang dipilih oleh Presiden Soekarno, sebagai wujud kecintaannya terhadap, negara, bangsa dan rakyat negeri ini. Soekarno tidak ingin darah tumpah diatas negeri, jika bisa diatasi dengan kekuasaan yang beliau miliki.

Sumber: Pena Soekarno

0 komentar:

Posting Komentar

Aku bersemboyan, Biar melati dan mawar dan kenanga dan cempaka dan semua bunga mekar bersama di taman sari Indonesia.
[Pidato HUT Proklamasi, 1964_Soekarno]