google.com, pub-8027005344017676, DIRECT, f08c47fec0942fa0

MOBIL REP-1


Sejarah RI berawal tak lama sesudah Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sebagai negara yang baru membebaskan diri dari penjajahan, jelas pemerintah RI tidak memiliki apa-apa, kecuali semangat merdeka. Gedung-gedung masih dikuasai tentara Jepang, yang telah menyatakan bertekuk lutut kepada Sekutu. Senjata pun hanya sebagian kecil yang berhasil direbut dari tentara Jepang. Bung Karno yang secara aklamasi dipilih sebagai presiden, juga belum punya kantor, bahkan masih tinggal di rumah sendiri, belum bisa masuk Istana Rijswijk di depan Lapangan Ikada. Demikian juga kelengkapan untuk Presiden, seperti mobil dan pasukan pengawal belum ada.
Menyadari perlunya kendaraan bagi seorang presiden, Sudiro (nantinya menjadi Walikota Jakarta) ingin 'berburu' mobil bagi presidennya. Sudiro tahu, mobil yang terbagus di Jakarta waktu itu dimiliki oleh seorang pejabat Jepang. Mobilnya itu bahkan lebih hebat dari yang dipakai atasannya, Gunseikan (Kepala Pemerintahan Pendudukan Jepang) atau Saiko Sikikan (Panglima Tertinggi Balatentara Jepang). Mobil itu bikinan Inggris bermerek Buick, dengan 7 tempat duduk. Mobil bercat hitam yang masih mengkilat itu tampak mewah dan kaca belakang dihias dengan kain halus. Jalannya mulus tanpa suara, karena masih baru. Mobil itu oleh pemiliknya diparkir di kantor Departemen Perhubungan. Ketika Sudiro ke sana, dilihatnya sopirnya sedang duduk di dekat mobil. Sudiro segera meminta si sopir untuk menyerahkan kunci mobil. Tentu saja si sopir kaget dan menolak. Akhirnya ia bersedia menyerahkan kunci mobil itu. Pasalnya, Sudiro mengatakan mobil ini untuk Presiden (Bung Karno).

Kepada sopir itu Sudiro memberi uang 300 rupiah agar ia segera pulang ke tempat asalnya, Kebumen. Setelah si sopir pergi, Sudiro yang telah memegang kunci mobil itu baru ingat bahwa ia belum bisa menyopiri mobil. Segera ia mencari kenalan yang bisa nyopir, lalu mobil itu dilarikannya ke rumah Bung Karno. Kata Sudiro pada Bung Karno: "Iki lho, Bung, mobil sing pantes kanggo Presiden RI (Ini, Bung, mobil yang pantas untuk Presiden RI). Bung Karno tertawa melihat Sudiro yang kreatif itu.

Ketika pemerintah RI hijrah ke Yogya, mobil Buick itu juga dibawa ke sana. Agar rakyat tahu bahwa mobil itu kendaraan khusus dari presiden, disarankan perlu diberi plat nomor khusus: REP 1. Bung Karno memerintahkan Mangil Martowidjojo, Komandan Detasemen Kawal Pribadi presiden, minta plat nomor ke polisi. Tetapi ketika Mangil menghadap Kepala Polisi Lalu Lintas Yogya, Soenarjo, permintaan itu tidak dikabulkan, karena tidak ada dalam peraturan. Mendapat laporan Mangil, Bung Karno tidak marah kepada pejabat yang menjadi bawahannya itu. Katanya: "Ya sudah, tidak apa-apa, Saya akan bikin sendiri nomor plat mobil itu." Bung Karno lalu memerintahkan Arif, sopirnya, untuk membuat plat "REP 1". Mobil ini selalu dinaiki Bung Karno bila berkunjung ke daerah.

Sumber: dari sini

0 komentar:

Posting Komentar

Aku bersemboyan, Biar melati dan mawar dan kenanga dan cempaka dan semua bunga mekar bersama di taman sari Indonesia.
[Pidato HUT Proklamasi, 1964_Soekarno]